Pengajian Rutin Aparatur Kecamatan Purwosari

Administrator 26 Februari 2019 10:55:28 WIB

GIRIASIH-SIDASAMEKTA, Selasa (26/2/19) Penyelenggara Pengajian Rutin Aparat di Lingkungan Kecamatan Purwosari bulan Februari tahun 2019 ini jatuh pada instansi Korwil Pendidikan Purwosari.

Pengajian dilaksanakan sekitar pukul 08.00 WIB bertempat di Korwilcam Bidang Pendidikan Kecamatan Purwosari. Sebelum sesi acara inti pengajian ada sambutan dari penyelenggara yang disampaikan Ibu Sumaryani, S.Pd (Kepala Korwilcam Bidang Pendidikan Kecamatan Purwosari).

Acara inti pengajian diisi tausyiah oleh Bapak Ustadz Drs.H.Buchori Muslim, M.Pd.I Kepala Kantor Kementrian Agama Kabupaten Bantul yang diantaranya yakni: 

Mengupas fase kehidupan manusia dalam Falsafah Jawa antara lain :

1. Maskumambang (Janin)

Maskumambang merupakan pembuka dalam kelompok tembang macapat, yang berarti menjadi pratanda dimulainya kehidupan manusia di dunia, tembang macapat  memberikan gambaran tentang janin dalam kandungan ibu ketika hamil. Arti kata Maskumambang sendiri banyak yang memaknai sebagai emas yang terapung (emas kumambang), juga sering disebut sebagai maskentir (emas yang terhanyut).

2. Mijil (Terlahir)

Tembang Mijil menjadi awal hadirnya manusia di dunia ini, yang berarti seorang anak terlahir dari gua garba Ibu. Kata lain dari mijil dalam bahasa jawa adalah wijil, wiyos, raras, medal, sulastri yang berarti keluar. Macapat Mijil menjadi tembang kedua setelah Maskumambang, tembang macapat maskumambang memiliki makna janin atau jabang bayi yang masih dalam kandungan ibunya.

Jabang bayi yang mijil dari rahim ibunya adalah suci, dia tidak bisa memilih terlahir dari siapa, misalpun terlahir dari hubungan “tidak sah”, bayi tetaplah suci, ibarat kertas ia masih bersih putih tanpa coretan. Ketika bayi lahir saat itulah ia mengenal dunia pertama kalinya, ia diberi wewenang untuk menjalani kehidupan selanjutnya. Ia dihadirkan untuk bisa menjadi “manusia” hingga suatu saat bisa kembali kepada-Nya dengan damai.

3. Sinom (Muda)

Dalam bahasa jawa Sinom bisanya digunakan untuk menyebut daun asam yang masih muda, beberapa kalangan mengartikan Sinom sebagai si enomisih enom (masih muda)Meski berbeda-beda dalam mengartikan, namun pada prinsipnya tetap sama dalam mengintepretasikan kata Sinom yakni tentang sesuatu yang masih muda.

Tembang macapat Sinom merupakan tembang ketiga.Setelah bayi lahir ia menjadi seorang anak yang dalam perkembangannya akan menjadi seorang anak muda yang dinamis. Tembang macapat Sinom secara umum memang memberi gambaran tentang seseorang yang menginjak usia muda, masa yang indah, penuh dengan harapan dan angan-angan hingga menjelang usia akil-balik ataupun dewasa. Dalam istilah konotasi bahasa Indonesia, orang yang masih muda belia sering dikatakan sebagai daun muda

4. Kinanthi (Dipandu)

Kinanthi banyak diyakini berasal dari kata dikanthi – kanthi (diarahkan, dibimbing, atau didampingi). Proses pendampingan anak sebenarnya sudah dilakukan orang tua sejak kecil, namun di usia remaja seorang anak perlu didampingi secara ekstra karena pada usianya ia sudah banyak berinteraksi dengan lingkungan.

Masa – masa remaja menginjak usia dewasa biasanya seseorang sedang mengalami proses pencarian identitas ataupun jati diri. Banyak referensi yang ia dapatkan dari interaksi lingkungan dan pergaulannya. Apa yang ia lihat, dengar dan rasakan terkadang didefinisikan seolah-olah adalah dirinya, saat itulah ia banyak meniru untuk menunjukkan ke-aku-annya.

5. Asmaradhana (Api Asmara)

Macapat Asmaradana merupakan salah satu tembang yang banyak menggambarkan gejolak asmara yang dialami manusia. Sesuai dengan arti kata, Asmaradana memiliki makna asmara dan dahanayang berarti api asmara.

Sebagaimana kehidupan, ia digerakkan oleh asmara, cinta, welas asih. Banyak yang percaya, dengan kekuatan cinta apapun bisa dilakukan. Bukan hanya cinta kepada sesama manusia, namun juga cinta terhadap Tuhan dan cita pada alam semesta.

6. Gambuh (Sepaham/Cocok)

Tembang macapat Gambuh merupakan salah satu tembang yang berisi tentang berbagai ajaran kepada generasi muda, khususnya mengenai bagaimana menjalin hubungan antara manusia satu dengan yang lainnya.

Beberapa kalangan ada yang memaknai kata Gambuh sebagai sebuah kecocokan, sepaham dan sikap bijaksana. Sikap bijaksana berarti dapat menempatkan sesuatu pada tempatnya, sesuai porsinya, dan mampu bersikap adil.

7. Dhandang Gula (Manisnya Kehidupan)

Tembang macapat Dandanggula memiliki makna harapan yang indah, kata dandanggula sendiri dipercaya berasal dari kata gegadhangan yang berarti cita-cita, angan-angan atau harapan, dan dari kata gula yang berarti manis, indah ataupun bahagia.

Selain mempunyai arti harapan yang indah, beberapa kalangan juga ada yang menafsirkan Dandanggula berasal dari kata dhandang yang berarti burung gagak yang melambangkan duka, dan dari kata gula yang terasa manis sebagai lambang suka. Kebahagiaan dapat dicapai setelah sebuah pasangan dapat melampaui proses suka-duka dalam berumah tangga sehingga akan tercapai cita-citanya, cukup sandang, papan dan pangan. Seseorang yang sedang menemukan kebahagiaan dapat diibaratkan lagunya dandanggula.

8. Durma (Mundurnya tata krama)

Tembang macapat Durma merupakan tembang macapat yang menggambarkan kondisi ketika manusia telah menikmati segala kenikmatan dari Tuhan. Dalam banyak kasus, manusia akan mengingat Pencipta-nya saat ia dalam kondisi kesulitan, dan ia akan lupa ketika dalam kondisi kecukupan. Durma bagi beberapa kalangan diartikan sebagai munduring tata krama, (mundurnya etika).

9. Pangkur (Menarik diri)

Tembang macapat Pangkur bagi orang jawa sering dimaknai sebagai proses mengurangi hawa nafsu dan mungkur dari urusan duniawi. Dalam tahap ini, manusia sudah memasuki usia senja dimana sesorang akan “berkaca” tentang dirinya, tentang masa lalunya, tentang pribadi dan Tuhannya dan lain sebagainya.

Pangkur yang juga berarti mungkur (mundur/mengundurkan diri), memberi gambaran bahwa manusia mempunyai fase dimana ia akan mulai mundur dari kehidupan ragawi dan menuju kehidupan jiwa atau spiritualnya.

10. Megatruh (Sakaratul maut)

Tembang macapat Megatruh merupakan salah satu tembang macapat yang menggambarkan tentang kondisi maunisa di saat sakaratul maut. Kata megatruh sendiri dipercaya berasal dari kata megat/pegat (berpisah) dan ruh, yang artinya berpisahnya antara jiwa dan raga.

Kematian menjadi hal yang paling ditekankan dalam tembang Megatruh, proses dimana setiap makhluk hidup di dunia pasti akan mengalaminya, proses yang menegangkan sekaligus menyakitkan bagi banyak orang, proses terbukanya gerbang menuju kehidupan yang tak pernah ada akhirnya.

11. Pucung (Kematian/dipocong)

Pocung yang biasa diartikan dengan pocong/pengkafanan jenazah. Bagi orang jawa, badan wadag yang telah ditinggalkan oleh ruhnya biasanya akan dirawat dan disucikan sebelum ia dikembalikan dari asalnya yaitu rahim ibu pertiwi (tanah). Jasad akan dimandikan dan dibungkus dengan kain mori putih sebagai lambang kesucian.

Tembang macapat Pucung merupakan satu tembang yang digunakan sebagai pengingat akan datangnya kematian. Hadirnya manusia di dunia yang sementara ini akan ada satu masa titik akhir dimana ia harus berpisah dengan segala yang ia cintai semasa hidup. Harta benda, keluarga, pangkat dan jabatan tidak bisa ia bawa sebagai bekal dalam menghadapi hari akhir.

 

Acara ditutup dengan Doa bersama. Jadwal penyelenggara  pengajian rutin bulan Maret 2018 adalah  UPT Puskesmas Purwosari.

Komentar atas Pengajian Rutin Aparatur Kecamatan Purwosari

Yudi 26 Februari 2019 11:43:10 WIB
Kembangkan
Harman 26 Februari 2019 11:35:19 WIB
Betull bagusss
Antoro 26 Februari 2019 11:34:24 WIB
Menarik untuk bahan pengetahuan dan bahan instropeksi diri, tingkatkan @admin Desa
Eco 26 Februari 2019 11:26:05 WIB
Bagus dan menarik, Tingkatkan !!!
Toro 26 Februari 2019 11:22:00 WIB
Joss Tingkatkan, bisa jadi pengetahuan untuk warga

Formulir Penulisan Komentar

Nama
Alamat e-mail
Kode Keamanan
Komentar
 

Komentar Terkini

Media Sosial

FacebookTwitterGoogle PlussYoutubeInstagram

Statistik Kunjungan

Hari ini
Kemarin
Pengunjung

Lokasi Giriasih

tampilkan dalam peta lebih besar